ANALISIS ZAKAT PRODUKTIF TERHADAP INDEKS KEMISKINAN, NILAI MATERIAL DAN SPIRITUAL PARA MUSTAHIK

MOHAMAD ANWAR

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Al-Ishlah Cirebon

onemohandad@gmail.com

ABSTRAK

Zakat sebagai salah satu instrumen moneter dan sosial Islam memiliki peranan yang cukup besar untuk dapat mengatasi masalah kemiskinan. Zakat Center Cirebon merupakan salah satu Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang cukup besar dan memiliki rekam jejak yang baik dalam pengumpulan dan pendayagunaan zakat di wilayah III Cirebon. Program penyaluran dan pendayagunaan dana zakat oleh Zakat Center Cirebon diantaranya terdapat di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan dakwah. Dana zakat terkumpul tersebut merupakan potensi yang sangat besar untuk didayagunakan utamanya dalam mempercepat program pemerintah dalam hal penurunan jumlah penduduk miskin. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis perubahan pendapatan rumah tangga mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon dan (2) mengidentifikasi karakteristik nilai material dan spiritual mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon berdasarkan model CIBEST. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan pengisian kuesioner. Adapun uji statistik dan analisis data yang digunakan adalah uji t data berpasangan dan model CIBEST. Hasil penelitian menujukkan bahwa pendapatan rumah tangga mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif mengalami perubahan yang signifikan. Sebelum adanya bantuan dana zakat, rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik adalah Rp 1.110.563,- dan setelah mendapatkan bantuan dana zakat rata-rata pendapatan rumahtangga mustahik naik menjadi Rp. 1.653.000,- Artinya terjadi peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik sebesar Rp. 542.437,-.Berdasarkan model CIBEST, karakteristik nilai material dan spiritual mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon mengalami perubahan. Setelah adanya bantuan dana zakat, jumlah rumah tangga mustahik yang berada pada kategori rumah tangga sejahtera (kuadran I) mengalami peningkatan sebesar 47.50 persen. Sedangkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk kategori miskin material (kuadran II) menurun 25.00 persen. Begitupun jumlah rumah tangga mustahik yang masuk kategori miskin spiritual (kuadran III) dan miskin absolut (kuadran IV) masing-masing turun sebesar 54.55 persen dan 90.91 persen.

Kata kunci: zakat produktif, kemiskinan, nilai material dan spiritual

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang bersifat multi dimensional dan dihadapi oleh berbagai negara, khususnya negara-negara berkembang. Multi dimensional dalam hal ini adalah bahwa kemiskinan tidak hanya dapat diukur dalam satu aspek, misalnya hanya diukur dari aspek ekonomi saja, tetapi dapat diukur pula melalui pendekatan kebutuhan spiritual masyarakat. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang memiliki bagian masalah kemiskinan yang cukup besar. Tingkat kemiskinan masyarakat walaupun cenderung menurun, namunnyatanya angka kemiskinan yang sudah dicapai saat ini masih jauh dari targetangka kemiskinan

Millennium Development Goals (MDGs) atau Deklarasi Milennium. Terdapat delapan targetyang disepakati oleh para pemimpin dunia di New York pada tahun 2000 untuk dicapai pada tahun 2015, kedelapan targettersebut meliputi masalah kemiskinan, pendidikan, kesetaraan gender, angkakematian bayi, kesehatan ibu, beberapa penyakit menular utama, lingkungan serta permasalahan global terkait perdagangan, serta bantuan dan hutang. Oleh karena itu walaupun jumlah penduduk miskin cenderung turun namun masih cukup jauh dari target MDGS yang telah ditargetkan dan disepakati bersama (Laporan MDGs 2008).

Gambar 1.1 Jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia periode 2009-2015 Sumber : BPS (2016)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin per Maret 2015 mencapai 28,59 juta orang atau 11,22 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlahnya bertambah 86 ribu orang dalam kurun enam bulan sejak September 2014 yang sebanyak 27,73 juta orang atau 10,96 persen. Mereka adalah penduduk dengan pengeluaran per bulan di bawah garis kemiskinan, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) enam bulanan yang digelar BPS bulan Maret lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin per Maret 2015 mencapai 28,59 juta orang atau 11,22 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlahnya bertambah 86 ribu orang dalam kurun enam bulan sejak September 2014 yang sebanyak 27,73 juta orang atau 10,96 persen. Mereka adalah penduduk dengan pengeluaran per bulan di bawah garis kemiskinan, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) enam bulanan yang digelar BPS bulan Maret lalu1.

Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2014 hingga tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 0.39 persen atau sebanyak 246 694 orang. Pada tahun 2014 tercatat jumlah penduduk miskin yang berada di Provinsi Jawa Barat sebanyak 4 238 960 orang atau sekitar 9.18 persen. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Barat tahun 2015 yang berjumlah 4 485 654 orang atau sekitar 9.57 persen.

  1. Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Indonesia dari tahun 2009 – 2014. https://www.bps.go.id/. [7 Juli 2017]

Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat (2016)

Berdasarkan Tabel 1.1 diatas, terlihat bahwa jumlah penduduk miskin di Kota/Kabupaten di Ciayumajakuning dari tahun 2014 sampai 2015 mengalami peningkatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa program-program yang direncanakan pemerintah dalam mengurangi kemiskinan tidak berdampak signifikan. Program yang direalisasikan tidak menyentuh pada akar masalah faktor kemiskinan.

Permasalahan kemiskinan merupakan masalah ekonomi yang sangat erat kaitannya dengan dimensi sosial. Zakat memiliki tiga dimensi yaitu dimensi sosial, dimensi ekonomi, dan dimensi spiritual. Zakat dalam dimensi sosial berupaya untuk menciptakan harmonisasi kondisi sosial masyarakat, sedangkan dalam dimensi ekonomi berupaya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi berkeadilan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan kaum dhuafa. Dimensi spiritual secara personal merupakan implikasi keimanan seseorang terhadap ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala, selain itu dalam hubungan dengan dimensi spiritual, zakat juga menjadi instrumenpenyucian harta serta mendorong etos kerja umat muslim untuk mencari rezeki yang halal (Beik 2010). Oleh karena itu, zakat sebagai salah satu instrumen moneter dan sosial Islam memiliki peranan yang cukup besar untuk dapat mengatasi masalah kemiskinan melalui program pendayagunaan zakat tersebut. Selain itu, zakat juga erat kaitannya dengan aspek ibadah atau spritual. Sehingga zakat tidak hanya melibatkan aspek sisi finansial saja tetapi juga sisi spiritual. Salah satu program pendayagunaan zakat yang dapat mengentaskan kemiskinan adalah zakat produktif.

Zakat produktif lebih bersifat jangka panjang, mustahik akan diberikan suatu modal untuk dijadikan usaha yang nantinya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usahanya. Zakat produktif ini akan membuat mustahik lebih mandiri dalam membiayai kehidupannya karena para mustahik akan mendapatkan tambahan penghasilan. Zakat produktif dinilai lebih bermanfaat bagi mustahik dibandingkan dengan zakat konsumtif yang bersifat sesaat. Mustahik diberikan modal dan dibekali tentang managemen usaha, sehingga terbebas dari lingkaran setan kemiskinan.

Zakat Center Cirebon merupakan salah satu Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang cukup besar dan memiliki rekam jejak yang baik dalam pengumpulan dan pendayagunaan zakat di wilayah III Cirebon (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan). Zakat Center Cirebon didirikan pada tanggal 22 Juli 2003 berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor C-354. Ht.01.02 Tahun 2004, Akta notaris Hendra Harmen, S.H No. 3 dan

4

direkomendasikan oleh MUI Kota Cirebon No. 33/MUI-UX-2003. Dan pada tahun 2013 lembaga ini telah mendapatkan Sertifikat Manajemen Mutu ISO 9001:2008. Berdasarkan perannya sebagai lembaga resmi pengumpul dana ZISWAF, Zakat Center Cirebon berdasarkan data 3 (tiga) tahun penerimaan donasi setiap tahunnya mengalami peningkatan sebagaimana disajikan pada Tabel 2.1 dibawah ini.

Sumber: Zakat Center Cirebon (2017)

Dari tabel di atas diketahui bahwa penerimaan donasi Zakat Center Cirebon dari tahun 2014, 2015 hingga 2016 terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2015 penerimaan donasi meningkat 3% dari tahun 2014 dan pada tahun 2016 meningkat 17% dari tahun sebelumnya. Peningkatan donasi yang berhasil dihimpun menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola ZISWAF.

Program penyaluran dan pendayagunaan dana zakat oleh Zakat Center Cirebon diantaranya terdapat di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan dakwah. Program yang bergerak di bidang produktif yaitu bidang ekonomi, dalam hal ini Program Ekonomi Mandiri (E-Man). Berikut disajikan penyaluran dan pendayagunaan dana zakat. Program tersebut berupaya untuk membantu memecahkan masalah kemiskinan dengan cara mendampingi masyarakat melakukan usaha di bidang-bidang yang telah digeluti oleh para mustahik. Program ini bertujuan agar masyarakat berdaya secara finansial dan spiritual.

Sumber: Zakat Center  Cirebon (2017)

Oleh karenanya, dalam program ini Zakat Center Cirebon tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk dana, tetapi juga dalam bentuk bimbingan dan pendampingan terkait

usaha dan spiritual. Dana zakat terkumpul tersebut merupakan potensi yang sangat besar untuk didayagunakan utamanya dalam mempercepat program pemerintah dalam hal penurunan jumlah penduduk miskin. Besarnya potensi zakat ini tidak sebanding dengan laju penurunan jumlah penduduk miskin, artinya ada suatu masalah jarak antara besarnya potensi dana zakat dengan penurunan jumlah penduduk miskin. Berdasarkan uraian tersebut, dibutuhkan penelitian mengenai dampak pemberian zakat produktif terhadap indeks kemiskinan, nilai material dan spiritual para mustahik.

1.2 Perumusan Masalah

  1. Sejauhmana perubahan pendapatan rumah tangga mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon?
  2. Bagaimana karakteristik nilai material dan spiritual mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon berdasarkan model CIBEST?

1.3 Tujuan penelitian

  1. Menganalisis perubahan pendapatan rumah tangga mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon.
  2. Mengidentifikasi karakteristik nilai material dan spiritual mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon berdasarkan model CIBEST.

PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Kepala Rumah Tangga Mustahik

Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini berjumlah 40 orang yang berasal dari 3 (tiga) wilayah, yaitu Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan. Responden tersebut adalah mustahik penerima bantuan dana zakat produktif Program Ekonomi Mandiri (E-Man) Zakat Center Cirebon. Karakteristik rumah tangga mustahik yang menjadi responden dalam penelitian ini akan dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:

Sumber: data primer diolah (2017)

Berdasarkan tabel di atas, mayoritas mustahik penerima bantuan dana zakat produktif program Ekonomi Mandiri (E-Man) yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon adalah perempuan, yaitu sebanyak 30 orang atau sebesar 75 persen. Sedangkan penerima bantuan dana zakat yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 10 orang atau sebesar 25 persen.

Seluruh mustahik (100 persen) yang menjadi responden dalam penelitian ini berada pada usia produktif yaitu pada usia 20-50 tahun. Mayoritas mustahik berstatus menikah, yaitu sebanyak 37 orang atau 92,5 persen. Hanya 1 orang (2,5 persen) yang belum menikah. Sedangkan sisanya, sebanyak 5 persen sudah bersatus duda atau janda.

Dari tingkat pendidikan, mustahik yang hanya mengenyam pendidikan dasar (SD) dan mustahik yang sudah menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SMA berjumlah sama,masing-masing sebesar 37,5 persen. Sedangkan mustahik yang menempuh pendidikannya hanya sampai dengan jenjang pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) bejumlah 22,5 persen. Sementara yang tidak pernah bersekolah hanya 2,5 persen.

Berdasarkan jenis usaha, mayoritas mustahik (62,5 persen) berjualan makanan, baik masakan (kuliner) ataupun makanan ringan. Mustahik lainnya berjualan minuman (10 persen), menjual kebutuhan sehari-hari (sembako) sebanyak 5 persen dan sisanya (22,5 persen) memiliki usaha lainnya, seperti menjahit, menjual pakaian, pulsa dan sebagainnya.

Jumlah anggota keluarga mustahik bervariasi. Sebanyak 10 persen, memiliki anggota keluarga sebanyak 1-2 orang. Kebanyakan mustahik (52,5 persen) memiliki jumlah anggota keluarga 3-4 orang. Sedangkan 30 persen mustahik memiliki anggota keluarga 5-6 orang. Sementara yang memiliki anggota keluarga lebih dari 6 orang hanya sebesar 7,5 persen.

Jumlah anggota keluarga mustahik yang tidak bekerja (menjadi tanggungan) pun berbeda. Sebanyak 67,5 persen mustahik memiliki 1-2 orang anggota keluarga yang menjadi tanggungan Kepala Keluarga. 30 persen mustahik memiliki 3-4 orang anggota keluarga yang tidak bekerja. Hanya 2,5 persen mustahik yang memiliki anggota keluarga lebih dari 6 orang yang tidak bekerja.

Jika dilihat dari data di atas, menunjukkan bahwa mustahik yang memiliki anggota keluarga yang sudah bekerja 1-2 orang, lebih dominan jumlahnya, yaitu sebesar 92,5 persen. Sementara mustahik yang memiliki anggota keluarga yang sudah bekerja 3-4 orang lebih kecil jumlahnya, hanya sebesar 5 persen. Sedangkan sisanya (hanya 2,5 persen) mustahik yang memiliki lebih dari 6 orang anggota keluarga yang sudah bekerja.

2.2 Analisis Dampak Pendayagunaan Dana Zakat Terhadap Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Mustahik

Hasil dari pengolahan data pendapatan rumah tangga mustahik dengan uji t-statistik berpasangan, menunjukkan bahwa pendapatan mustahik setelah menerima zakat berbeda (alfa 0,05) dengan pendapatan mustahik sebelum menerima zakat, seperti yang disajikan pada Tabel 2.2 dibawah ini. Artinya bahwa zakat berpengaruh signifikan meningkatkan pendapatan mustahik.

Tabel 2.2 Hasil Uji t

Sumber: data primer diolah (2017)

Berikut ini akan dijelaskan mengenai dampak dari pendayagunaan dan pendistribusian dana zakat produktif terhadap perubahan pendapatan rumah tangga mustahik:

Sumber: data primer diolah (2017)

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dapat diambil kesimpulan bahwa pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat memiliki dampak terhadap pendapatan rumah tangga mustahik. Dampak yang ditimbulkan oleh pendistribusian dan pendayagunaan zakat adalah dampak yang positif. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat. Sebelum adanya bantuan dana zakatyang diberikan oleh Zakat Center Cirebon rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik secara keseluruhan sebesar Rp. 1.110.563,- dan setelah mendapatkan bantuan dana zakat, rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik secara keseluruhan naik menjadi Rp. 1.653.000,-. Artinya terjadi peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik sebesar Rp. 542.437,-.

Untuk melihat dampak dari pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat sebagai pengurang tingkat kemiskinan dilakukan dengan menggunakan analisis kuadran CIBEST dan perhitungan indeks kemiskinan. Kedua analisis ini dilakukan dengan melihat dampak sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon. Jika terdapat perubahan terhadap rumah tangga mustahik, perubahan baik atau buruk, maka dapat dikatakan bahwa pemberian bantuan dana zakat kepada mustahik memberikan dampak terhadap perubahan tingkat kemiskinan. Baik buruknya perubahan tersebut dapat dilihat dari perubahan indeks kemiskinan yang meliputi indeks kemiskinan absolut, indeks kemiskinan spiritual, indeks kemiskinan material, dan indeks kesejahteraan.

2.3 Analisis Kuadran CIBEST pada Tingkat Kemiskinan Rumah Tangga Mustahik Sebelum Adanya Bantuan Dana Zakat.

Sebelum membahas penentuan kuadran CIBEST terhadap tingkat kemiskinan rumah tangga mustahik, terlebih dahulu dihitung tingkat nilai material (material value/MV) pada rumah tangga mustahik berdasarkan wilayah tempat tinggal yaitu Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon dan Kuningan. Hasil perhitungan nilai MV mustahik disajikan pada Tabel 2.4 dibawah ini. Berdasarkan perhitungan MV, rumah tangga mustahik yang pendapatannya dibawah Rp. 1,184,450. 32,- tergolong ke dalam rumah tangga miskin.

Sumber : Data BPS Provinsi Jawa Barat diolah

Kuadran CIBEST terdiri atas empat kuadran, yaitu kuadran I adalah kategori sejahtera, kuadran II adalah kategori miskin material, kuadran III adalah kategori miskin spiritual, dan kuadran IV adalah kategori miskin absolut. Beradasarkan data yang sudah dikumpulkan melalui kuisioner dan wawancara dengan mustahik, maka didapatkan hasil sebagaimana disajikan pada Gambar 2.1. Beradasarkan data yang diperoleh, terdapat 6 rumah tangga mustahik yang masuk kedalam kuadran I atau masuk dalam kategori sejahtera. Kategori sejahtera ini terletak pada sumbu positif baik pada sumbu garis kemiskinan spiritual maupun pada sumbu garis kemiskinan material. Artinya, 6 rumah tangga mustahik ini sudah tercukupi kebutuhan material dan kebutuhan spiritualnya sebelum mendapatkan bantuan dana zakat dari Zakat Center Cirebon.

Selanjutnya pada kuadran II dapat dilihat rumah tangga yang masuk dalam kuadran ini atau masuk dalam kategori miskin material berjumlah 12 rumah tangga. Kuadran II berada pada posisi sumbu negatif pada garis kemiskinan material dan sumbu positif pada garis kemiskinan spiritual. Artinya, rumah tangga tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan spiritualnya namun belum mampu memenuhi kebutuhan materialnya. Rumah tangga pada kuadran ini adalah rumah tangga yang diutamakan dalam menerima bantuan dana zakat. Tujuannya adalah agar rumah tangga tersebut dapat memenuhi kebutuhan mG

Gambar 2.1 Kuadran CIBEST Sebelum Adanya Bantuan Dana Zakat

Sumber: data primer diolah (2017)

Pada kuadran III, terdapat 11 rumah tangga yang tergolong dalam kuadran ini. Kuadran ini berada pada posisi sumbu negatif pada garis kemiskinan spiritualnya dan sumbu positif pada garis kemiskinan materialnya. Rumah tangga yang masuk dalam kuadran ini dapat dikatakan sebagai rumah tangga yang miskin spiritual. Artinya, rumah tangga ini sudah mampu memenuhi kebutuhan materialnya tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Kuadran terakhir adalah kuadran IV. Jumlah rumah tangga yang masuk dalam kuadran ini berjumlah 11 rumah tangga. Kuadran ini berada pada posisi sumbu negatif baik pada garis kemiskinan spiritual maupun garis kemiskinan material. Rumah tangga yang masuk dalam kuadran ini dapat dikatakan sebagai rumah tangga yang miskin absolut. Artinya, rumah tangga tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan spiritualnya maupun kebutuhan materialnya.

2.4 Analisis Kuadran CIBEST pada Tingkat Kemiskinan Rumah Tangga Mustahik Setelah Adanya Bantuan Dana Zakat

Bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon kepada mustahik diharapkan mampu meningkatkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk dalam kuadran I atau masuk dalam kategori sejahtera. Selain itu, bantuan dana zakat ini juga diharapkan mampu menurunkan jumlah rumah tangga mustahik yang termasuk dalam kategori miskin material, miskin spiritual, dan miskin absolut. Berikut adalah hasil analisis kuadran CIBEST terhadap tingkat kemiskinan rumah tangga mustahik setelah adanya bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon:

Gambar 2.2 Kuadran CIBEST Setelah Adanya Bantuan Dana Zakat

Sumber: data primer diolah (2017)

Berdasarkan gambar di atas, rumah tangga yang masuk dalam kuadaran I atau masuk dalam kategori keluarga sejahtera berjumlah 25 rumah tangga, artinya sebanyak 25 rumah tangga mustahik sudah mampu memenuhi kebutuhan spiritual maupun kebutuhan materialnya.Sedangkan rumah tangga yang masuk dalam kuadran II atau miskin material berjumlah 9 rumah tangga. Sebanyak 5 rumah tangga masuk dalam kuadran III atau miskin spiritual dan rumah tangga yang masuk dalam kuadran IV atau miskin absolut berjumlah 1 rumah tangga.

Setelah menganalisis kondisi rumah tangga mustahik sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon dengan menggunakan kuadran CIBEST, dapat dilihat terjadi perubahan jumlah rumah tangga pada masing-masing kuadran. Perubahan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Sumber: data primer diolah (2017)

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa terjadi perubahan jumlah pada masing-masing kuadran. Pada kuadran I, perubahan yang terjadi pada rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori rumah tangga sejahtera mengalami peningkatan setelah adanya bantuan dana zakat. Sebelum adanya bantuan dana zakat, rumah tangga mustahik yang masuk dalam kuadran I berjumlah 6 rumah tangga. Setelah adanya bantuan dana zakat, jumlah rumah tangga mustahik yang berada pada kuadran I mengalami peningkatan menjadi 25 rumah tangga.

Rumah tangga mustahik yang berada pada kuadran II atau kategori miskin material mengalami penurunan. Sebelum adanya bantuan dana zakat, jumlah rumah tangga mustahik yang berada pada kuadran II atau rumah tangga yang mampu mencukupi kebutuhan spiritualnya tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan materialnya berjumlah 12 rumah tangga. Namun setelah adanya bantuan dana zakat, jumlah rumah tangga yang masuk dalam kuadran II mengalami penurunan menjadi 9 rumah tangga.

Jumlah rumah tangga mustahik yang masuk dalam kudran III atau ketegori miskin spiritual juga mengalami penurunan. Sebelum adanya bantuan dan zakat, rumah tangga mustahik yang masuk dalam kuadran III atau rumah tangga yang mampu memenuhi kebutuahan materialnya tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan spiritualnya berjumlah 11 rumah tangga. Namun setelah adanya bantuan dana zakat, rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori miskin spiritual atau kuadran III mengalami penurunan menjadi 5 rumah tangga.

Kuadran terakhir adalah kuadran IV. Kuadran ini menggambarkan kondisi rumah tangga yang berada pada kondisi miskin absolut. Artinya rumah tangga tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan material maupun spiritualnya. Sebelum adanya bantuan dana zakat, rumah tangga mustahik yang berada pada kuadran IV berjumlah 11 rumah tangga. Jumlah tersebut mengalami penurunan menjadi 1 rumah tangga setelah adanya bantuan dana zakat.

Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan, secara umum adanya bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon dapat meningkatkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk dalam kuadran I atau dapat dikatakan rumah tangga yang sejahtera. Bantuan dana zakat produktif yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon juga mampu menurunkan jumlah rumah tangga yang masuk dalam kategori miskin material, miskin spiritual dan miskin absolut. Dengan begitu, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat produktif berpengaruh dan berdampak pada turunnya tingkat kemiskinan rumah tangga mustahik.

2.5 Analisis Indeks Kemiskinan Islami

Indeks kemiskinan Islami yang terdapat dalam model CIBEST terdiri atas indeks kesejahteraan, indeks kemiskinan material, indeks kemiskinan spiritual, dan indeks kemiskinan absolut. Berdasarkan hasil analisis kuadran CIBEST, telah diketahui jumlah rumah tangga yang masuk dalam masing-masing kategori. Melalui hasil dari kuadran CIBEST tersebut maka akan didapatkan hasil dari perhitungan indeks kemiskinan Islami. Berikut adalah hasil perhitungan indeks kemiskinan Islami.

Sumber: data primer diolah (2017)

2.5.1Analisis Indeks Kesejahteraan Rumah Tangga Mustahik

Indeks kesejahteraan menggambarkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori rumah tangga sejahtera. Untuk mengetahui dampak dari pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat terhadap kesejahteraan rumah tangga mustahik maka penelitian dilakukan sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat. Beradasarkan data diatas, jumlah rumah tangga mustahik yang berada pada kategori rumah tangga sejahtera mengalami peningkatan dari 0.150 menjadi 0.625. Artinya terjadi peningkatan indeks kesejahteraan rumah tangga mustahik sebesar 47.50 persen. Hasil tersebut menunjukan bahwa dengan adanya pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat terbukti dapat meningkatkan indeks kesejahteraan rumah tangga mustahik.

2.5.2     Analisis Indeks Kemiskinan Material Rumah Tangga Mustahik

Indeks kemiskinan material menggambarkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori miskin secara materialnya namun kaya secara spiritual. Analisis indeks kemiskinan material terhadap rumah tangga mustahik dilakukan sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Thoriqotul Jannah Cirebon. Berdasarkan dari penelitian yang sudah dilakukan, diperoleh hasil bahwa terjadi penurunan indeks kemiskinan material pada rumah tangga mustahik. Sebelum adanya bantuan dana zakat, rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori miskin material sebesar 0.300 atau sebesar 30.0 persen.Namun setelah adanya bantuan dana zakat, rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori miskin material menjadi 0.225 atau 22.5 persen atau mengalami penurunan sebesar 25.00 persen. Artinya, bantuan dana zakat yang diberikan kepada rumah tangga mustahik mampu menurunkan indeks kemiskinan material.

2.5.3     Analisis Indeks Kemiskinan Spriritual Rumah Tangga Mustahik

Indeks kemiskinan spiritual menggambarkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk ke dalam kategori miskin secara spiritual tetapi kaya secara material. Analisis indeks kemiskinan spiritual rumah tangga mustahik dilakukan sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon. Berdasarkan data diatas, indeks kemiskinan spiritual rumah tangga mustahik sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat mengalami penurunan. Sebelum adanya bantuan dana zakat, rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori miskin spiritual sebesar 0.275 atau sebesar 27.5 persen. Setelah adanya bantuan dana zakat, rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori miskin spiritual turun menjadi 0.125 atau 12.5 persen. Artinya, jumlah rumah tangga mustahik yang masuk dalam kategori miskin spiritual mengalami penurunan sebesar 54.55 persen setelah adanya bantuan dana zakat. Dengan begitu, terbukti bahwa dengan adanya bantuan dana zakat dapat menurunkan indeks kemiskinan spiritual pada rumah tangga mustahik.

Dapat dilihat indeks kemiskinan spiritual rumah tangga mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat dan bimbingan dari Zakat Center Cirebon, nilai indeks kemiskinan spiritual semakin mendekati nol yang artinya semakin rendah tingkat kemiskinan spiritual yang terjadi pada rumah tangga mustahik. Secara umum dapat dikatakan pula pemberian dana zakat dan bimbingan yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon berpengaruh dalam menurunkan tingkat kemiskinan spiritual rumah tangga mustahik.

Menurunnya indeks kemiskinan spiritual ini menurut persepsi rumah tangga mustahik disebabkan oleh adanya ceramah-ceramah atau materi-materi bimbingan yang mengarah kepada urusan ibadah, walaupun materi mengenai ibadah tidak secara rutin selalu dijalankan. Sebagian besar rumah tangga mustahik dalam penelitian ini pada kondisi sebelum menerima dana zakat produktif dan juga bimbingan sebenarnya sudah tidak masuk dalam kategori miskin spiritual. Hal ini terlihat dari skor rata-rata kebutuhan spiritual rumah tangga mustahik sebelum dan setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dan bimbingan yang disajikan pada Tabel 2.7 dibawah ini:

Sumber : Data primer diolah (2017)

Skor spiritual mustahik sebelum menerima bantuan zakat sebesar 3.10. Angka tersebut menggambarkan bahwa rata-rata rumah tangga mustahik sudah memiliki nilai spiritual value diatas tiga atau dapat dikatakan rata-rata rumah tangga mustahik sudah tercukupi dalam hal kebutuhan spiritual. Namun tetap variabel spiritual yang memiliki nilai spiritual value dibawah tiga. Setelah adanya bantuan dana produktif dan bimbingan, skor rata-rata kebutuhan spiritual rumah tangga meningkat menjadi 3.70. Hal ini menandakan bahwa rata-rata rumah tangga mustahik semakin baik dalam hal beribadah, seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa menurutpersepsi mustahik, bahwa materi-materi bimbingan yang bersifat spiritual juga mempengaruhi kondisi spiritual mustahik. Peningkatan skor rata-rata kebutuhan spiritual ini juga telah dikompensasi oleh menurunnya indeks kemiskinan spiritual rumah tangga mustahik yang telah dijelaskan sebelumnya.

2.5.4 Analisis Variabel Kemiskinan Spiritual

Mustahik yang mendapatkan bantuan dana zakat produktif harus mengikuti pembinaandan pendampingan yang dilakukan oleh Zakat Center Cirebon. Para mustahik akan diberikan bimbingan, baik terkait dengan bimbingan wirausaha dan juga spiritual. Sebulan sekali para mustahik diharuskan mengikuti pembinaan rutin. Setiap musathik diberikan kesempatan untukmenyampaikan dan bertanya mengenai hal apapun. Dari sisi bimbingan secara spiritual, mustahik diberikan pemahaman tentang ibadah-ibadah wajib seperti shalat, puasa, manfaat zakat,kewajiban-kewajiban sebagai muslim, usaha yang baik dan halal, dan lain-lain.

Bimbingan yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon sejalan dengan kebutuhan spiritual yang dibutuhkan. Berdasarkan wawancara melalui kuesioner yang dilakukan terhadap mustahik, mayoritas mustahik merasakan adanya perubahan terkait perilaku spiritual mustahik tersebut setelah adanya pembinaan spiritual, walaupun secara langsung hal tersebut tidak dapat dikatakan seutuhnya sebagai pembinaan spiritual. Mayoritas mustahik mengalami peningkatan dalam sisi kebutuhan spiritual mulai dari shalat, puasa, zakat dan infak, lingkungan rumah tangga serta kebijakan pemerintah.

1.   Shalat

Variabel indikator shalat rumah tangga mustahik pada saat belum menerima bantuan dana zakat dan bimbingan spiritual dari Zakat Center Cirebon memiliki skor rata-rata sebesar 3.08, angka ini memang berada diatas garis kemiskinan spiritual namun angka ini cenderung mendekati tiga. Artinya skor rata-rata rumah tangga mustahik untuk variabel shalat sangat dekat dengan batas garis kemiskinan spiritual. Hal ini dapat dikatakan pula bahwa mayoritas rumah tangga mustahik sudah menjalankan ibadah shalat lima waktu secara rutin namun masih terdapat beberapa rumah tangga mustahik yang belum menjalankan ibadah shalat lima waktu secara rutin. Setelah mendapatkan bantuan dana zakat serta bimbingan spiritual dari Zakat Center Cirebon skor rata-rata variabel indikator sholat rumah tangga mustahik meningkat sebesar 0.85 menjadi 3.93 atau meningkat sebesar 20.86 persen. Skor rata-rata variabel indikator sholat mendekati empat artinya semakin banyak rumah tangga mustahik yang melaksanakan sholat lima waktu secara rutin.

2.   Puasa

Variabel selanjutnya yaitu variabel indikator puasa rumah tangga mustahik pada saat belum menerima bantuan dana zakat serta bimbingan spiritual dari Zakat Center Cirebon memiliki skor rata-rata sebesar 2.90 atau sebesar 78.84 persen. Hal ini menandakan bahwa mayoritas rumah tangga mustahik sudah melaksanakan ibadah puasa wajib tidak secara penuh pada bulan Ramadhan. Setelah mendapatkan bimbingan spiritual skor variabel indikator puasa rumah tangga mustahik meningkat sebesar 0.90 menjadi 3.80 atau secara persentase naik 23.68 persen.

3.    Zakat dan Infak

Selanjutnya, variabel indikator zakat dan infak rumah tangga mustahik sebelum mendapatkan bantuan dana zakat dan bimbingan dari Zakat Center Cirebon memiliki skor rata-rata sebesar 3.53. Skor ini menandakan mayoritas rumah tangga mustahik sudah membayar infak minimal sekali dalam setahun namun skor ini dirasa masih cukup rendah karena mendekati batas skor minimal yaitu tiga. Skor rata-rata rumah tangga mustahik dalam hal zakat dan infak meningkat setelah adanya bantuan zakat dan bimbingan. Skor rata-rata meningkat sebesar 0.50 menjadi 4.03. Hal ini menandakan bahwa jumlah rumah tangga mustahik yang membayar infak dan zakat meningkat, bahkan mayoritas rumah tangga mustahik juga membayar zakat harta. Meningkatnya skor ini selain dipengaruhi oleh bimbingan yang diberikan, Zakat Center Thoriqotul Jannah Cirebon juga mengarahkan dan menganjurkan mitra binaan atau mustahik untuk berinfak setiap hari. Anjuran untuk berinfak ini melatih kegemaran berinfak bagi rumah tangga mustahik. Program untuk meningkatkan kegemaran berinfak bagi para mustahik ini sesuai dengan anjuran dalam Al-Qur’an dimana orang yang kurang mampu juga dianjurkan untuk berinfak, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an di surat Ali-Imran ayat 134:

(ayat alquran)

“(yaitu) orang-orang yang berinfak baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”

Dalam surat tersebut sangat jelas menggambarkan bahwa berinfak dapat pula dilakukan dalam kondisi sempit, sehingga kemiskinan tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak berinfak.

4.    Lingkungan Rumah Tangga

Variabel ini berupaya menggambarkan kondisi lingkungan keluarga mustahik dalam hal mendukung terpenuhinya kebutuhan spiritual dalam rumah tangga mustahik tersebut. Skor rata-rata untuk variabel lingkungan keluarga sebelum mendapatkan bantuan dana zakat dan bimbingan sebesar 3.05. Artinya mayoritas rumah tangga mustahik masih menganggap ibadah adalah urusan pribadi masing-masing anggota rumah tangga tetapi mulai mengarah kepada mendukung ibadah anggota keluarga. Skor rata-rata variabel lingkungan rumah tangga setelah adanya bantuan dana zakat dan bimbingan dari Zakat Center Cirebon meningkat sebesar 0.18 menjadi 3.23. Artinya setelah adanya bantuan dana zakat dan bimbingan dari Zakat Center Cirebon mayoritas sudah mendukung ibadah anggota keluarga dalam suatu rumah tangga mustahik, selain itu setelah adanya bantuan dana zakat dan bimbingan skor rata-rata variabellingkungan rumah tangga mendekati empat. Dapat dikatakan bahwa selain mendukung ibadah masing-masing anggota keluarga, mayoritas keluarga mustahik juga mengarah kepada mendukung ibadah secara bersama-sama.

5.    Kebijakan Pemerintah

Variabel terakhir yang menjadi indikator kebutuhan spiritual rumah tangga mustahik adalah variabel kebijakan pemerintah. Variabel ini berupaya menggambarkan dukungan pemerintah setempat terhadap upaya pemenuhan kebutuhan spiritual rumah tangga mustahik. Pemerintah disini meliputi pejabat lingkungan setempat sampai pada taraf kelurahan dalam hal mendukung kegiatan peribadatan warga. Skor rata-rata rumah tangga mustahik sebelum adanya bantuan dana zakat dan bimbingan dari Zakat Center Cirebon sebesar 2.95. Artinya mayoritas kebijakan pemerintah di lingkungan rumah tangga mustahik masih menganggap ibadah adalah urusan pribadi masyarakat. Pemerintah tidak terlalu banyak mengintervensi atau membuat kebijakan yang berkaitan dengan ibadah rumah tangga mustahik. Skor rata-rata rumah tangga mustahik setelah adanya bantuan dana zakat dan bimbingan meningkat sebesar 0.55 menjadi3.50. Artinya mayoritas rumah tangga mustahik setelah adanya bantuan dana zakat dan bimbingan didukung oleh kebijakan pemerintah seperti meningkatkan sarana dan prasarana ibadah dilingkungan rumah tangga mustahik. Para mustahik bersama dengan lembaga amil zakat sesudah adanya bantuan dana zakat dan pembinaan dan bimbingan, lebih pro aktif dalam mengaspirasikan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan spiritual yang dibutuhkan.

2.5.5 Analisis Indeks Kemiskinan Absolut Rumah Tangga Mustahik

Indeks kemiskinan absolut menggambarkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk ke dalam kategori miskin secara material maupun secara spiritual. Rumah tangga pada kategori ini belum mampu mencukupi kebutuhan spiritualnya maupun kebutuhan materialnya. Analisis indeks kemiskinan absolut terhadap rumah tangga mustahik dilakukan sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat yang diberikan oleh Zakat Center Cirebon. Berdasarkan tabel diatas, indeks kemiskinan absolut sebelum dan sesudah adanya bantuan dana zakat mengalami perubahan. Sebelum adanya bantuan dana zakat, indeks kemiskinan absolut rumah tangga mustahik bernilai 0.275 atau sebesar 27.5 persen. Setelah adanya bantuan dana zakat, indekskemiskinan absolut rumah tangga mustahik turun menjadi 0.025 atau sebesar 2.5 persen. Artinya, indeks kemiskinan absolut rumah tangga mustahik mengalami penurunan sebesar 90.91 persen. Dengan demikian, terbukti bahwa dengan adanya bantuan dana zakat yang diberikan kepada rumah tangga mustahik dapat menurunkan indeks kemiskinan absolut yang terjadi pada rumah tangga mustahik.

KESIMPULAN

  1. Pendapatan rumah tangga mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon mengalami perubahan yang signifikan. Sebelum adanya bantuan dana zakat, rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik adalah Rp 1.110.563,- dan setelah mendapatkan bantuan dana zakat rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik naik menjadi Rp. 1.653.000,- Artinya terjadi peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga mustahik sebesar Rp. 542.437,-.
  2. Berdasarkan model CIBEST, karakteristik nilai material dan spiritual mustahik setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif dari Zakat Center Cirebon mengalami perubahan. Setelah adanya bantuan dana zakat, jumlah rumah tangga mustahik yang berada pada kategori rumah tangga sejahtera (kuadran I) mengalami peningkatan sebesar 47.50 persen. Sedangkan jumlah rumah tangga mustahik yang masuk kategori miskin material (kuadran II) menurun 25.00 persen. Begitupun jumlah rumah tangga mustahik yang masuk kategori miskin spiritual (kuadran III) dan miskin absolut (kuadran IV) masing-masing turun sebesar 54.55 persen dan 90.91 persen.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik [BPS] Provinsi Jawa Barat. 2016. Jumlah Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan Kota/Kab Ciayumajakuning. BPS Jawa Barat. Bandung.

Beik IS, Arsyianti LD. 2015. Construction of CIBEST Model as Measurement of Poverty and Welfare Indicesfrom Islamic Perspective. Al-iqtishad Vol VII No 1.

Beik IS. 2009. Analisis Peran Zakat dalam Mengurangi Kemiskinan: Studi Kasus Dompet Dhuafa Republika. Jurnal Pemikiran dan Gagasan. Al-iqtishad Vol 2.

Zakat Center Thoriqotul Jannah Cirebon. 2017. Laporan Pertanggungjawaban Zakat Center Thoriqotul Jannah Cirebon. Cirebon.

LINK DOWNLOAD


Zakat Calculator

error: Konten terlindungi !!