Masjid Nabawi Wakaf Pertama Rosulullah

Masjid Nabawi Wakaf Pertama Rosulullah

Category : Uncategorized

Masjid Nabawi merupakan salah satu masjid yang dimuliakan. Rasulullah pernah bersabda, “Janganlah kalian berkunjung pada tiga masjid, yaitu Masjid al-Haram (Mekah), Masjidku ini (Nabawi di Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina).”

Bahkan, Rasulullah juga bersabda, beribadah di Masjid Nabawi pahalanya akan dilipatgandakan hingga 1000 kali lipat. Karena mengundang takjub, sebagian besar umat Islam yang pernah berkunjung ke Madinah, senantiasa menyempatkan diri untuk beribadah di Masjid ini. Bahkan, pada musim haji, jutaan umat Islam dari seluruh dunia, berhasil melaksanakan shalat sebanyak 40 kali (arbain) di Masjid ini selama lima hari demi mendapatkan keberkahannya.

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun Rasulullah di Madinah, setelah masjid pertama Quba, sekitar dua juta dari Madinah.

1. Penentuan Lokasi Pembangunan 

Setelah membangun masjid Quba, Rasulullah tinggal di Quba selama empat hari. Lalu Rasulullah melanjutkan perjalanan menuju kota Madinah. Ada kisah menarik sebelum akhirnya Rasulullah menentukan lokasi tempat didirikannya Masjid Nabawi.

Saat itu Rasulullah yang menunggangi memulai Kota Madinah dan masyarakat Kota Madinah yang mengetahui informasi tersebut segera dikumpulkan. Masyarakat di sana ingin sekali menarik tali kekang untuk mengundang Rasulullah tinggal dirumah mereka. Lalu beliau menyelesaikan kalimat.

“Jangan ada yang menarik kekangan tali ini, karena ia telah mendapatkan perintah langsung dari Allah di mana ia akan berhenti” Ucap Rasulullah.

Akhirnya sampai berhenti dan duduk disebuah bangunan yang rupanya tempat itu merupakan tempat penjemuran kurma milik Suhail dan Sahl, dua anak yatim dari Bani Najjar yang berada dalam pemeliharaan As’ad bin Zurarah. Bani Najjar ini merupakan suku dari keluarga ibunda Rasulullah, Aminah.

Rasulullah mengeluarkan anak yatim itu dan menawar tanah tersebut. Namun kedua anak itu mengatakan: “Justru kami ingin memberikannya kepada Anda, wahai Rasulullah”.

Namun Rasulullah menerima hadiah dua anak yatim ini dan ingin membeli tanah tersebut. Setelah berdiskusi cukup panjang, Rasulullah menghargainya. Setelah menemukan harga yang tepat, lalu beliau menebusnya.

2. Kisah Proses Pembangunan 

Pada proses pembangunan ini, Rasulullah mengutamakan orang-orang yang ahli. Dalam diskusi, Rasulullah bersabda kepada para sahabat yang ikut bekerja dalam pembangunan: “Dekatkanlah al-Yamami ke tanah itu, karena membuka dia terbaik di antara kalian, dan paling kuat adonannya”

Sejarah lain, al-Yamaami berkata: “Aku mencampurkan tanah, lalu seakan campuranku ini mengagetkannya, dan Rasulullah: ‘Biarkanlah al-Yamaami al-Hanafi dengan tanah, karena dia adalah yang paling ahli di antara orang-orang dalam urusan tanah’.”

‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu’ anhu termasuk sahabat yang sangat senang dalam pembangunan ini. Saat yang dibawakan membawa satu batu bata, dia membawa dua. Satu untuk dirinya sendiri, sedangkan satu lagi untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat perbuatan ‘Ammar ini, Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam mengusap punggung ‘Ammâr seraya bersabda: “Wahai Ibnu Sumayyah, orang-orang ini mendapatkan pahala satu, serta mendapatkan pahala dua, bekal kelompok pembangkang ”.

Hadits ini termasuk di antara bukti kenabian Nabi Muhammad, karena di kemudian hari ‘Ammar berlalu dengan cara yang telah diterima Rasulullah dalam hadits di atas.

Pembangunan masjid Nabawi membutuhkan waktu dua belas hari. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Kala itu Masjid Nabawi sangat sederhana, kita akan sulit membayangkannya, melihat bangunannya yang megah saat ini. Lantai masjidnya dari tanah berbatu, atapnya pelepah kurma, dan ada tiga pintu. Sementara saat ini, Masjid Nabawi sangat besar dan megah.

3. Sejarah Perluasan

Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Rasulullah pun mengambil kebijakan penuh Masjid Nabawi. Dia menambah masing-masing 20 masing-masing untuk panjang dan lebar. Utsman bin Affan adalah orang yang dibebaskan biaya pembebasan tanah untuk mendapatkan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya dia dari Perang Khaibar.

Sepeninggal Rasulullah SAW, Masjid Nabawi terus ditingkatkan oleh sahabat dan penerus beliau. Masjid ini juga mengalami renovasi pada masa Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H. Renovasi selanjutnya dilakukan masa Khalifah Usman bin Affan yang dilaksanakan pada 29 H.

Perbaikan terhadap Masjid Nabawi juga dilakukan pada zaman pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah. Umar bin Abdul Aziz yang menyusunnya sebagai gubernur Madinah al-Munawarah yang menerima pembangunan kembali Masjid Nabawi. Dalam kesempatan itu, Umar bin Abdul Aziz menambahkan mihrab bagian dalam.

Ini merupakan mihrab pertama yang digunakan pada interior masjid. Saat itu, mihrab dibuat berbentuk ceruk pada dinding dan dibuat sebagai penanda Arah kiblat. Selain itu, ia juga membangun empat menara dan membuat 20 pintu masuk. Proyek pemugaran dan peningkatan tersebut selesai pada 91 H atau 711 M.

Pada masa Khalifah Al-Mahdi dari Daulah Abbasiyah, pada bangunan Masjid Nabawi, ditambahkan maqshurah di bagian shaf awal. Maqshurah mewakili ruangan di bagian depan yang digunakan untuk membawa jenazah masuk untuk dishalatkan.

Bangunan Masjid Nabawi diperbaiki kembali di bawah pemerintahan Sultan Ashraf Qait Bey dari Dinasti Mamluk. Pada masa ini, dibangun dua buah kubah tepat di atas makam Rasulullah SAW dan pasang pagar pembatas di sekitar makam Nabi SAW. Sultan Abdul Majid, memerintah Turki Usmani, melakukan merebut halaman di belakang maqshurah.

4. Perluasan Terbesar

Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Arab Saudi meluaskan masjid ini menjadi 6.042 meter persegi pada 1372 H. Diperpanjang kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd. Pada bulan Safar 1405 H atau November 1984 M, beliau menentukan batu pertama untuk proyek tersebut Masjid Nabawi yang paling signifikan dan termegah sepanjang sejarah.

Setelah tertunda satu tahun; pada Muharram 1406 H atau Oktober 1985, dimulailah proyek besar ini dengan menggusur bangunan hotel-hotel bertingkat, pasar, dan kompleks pertokoan di sekitar yang dibangun di atas tanah seluas 100 ribu meter persegi. Kemudian, di atas tanah tersebut dibangun masjid baru seluas 82 ribu meter persegi yang mengitari dan menyatu dengan bangunan yang sudah ada.

5. Nilai Kebaikan dari Wakaf

Jutaan umat muslim saat ini telah menikmati Manfaat wakaf di masjid Nabawi. Wakaf bukan hanya saat Rasulullah pertama kali membeli tanah, namun juga pada saat proses pembeliannya.

Wakaf menjadi salah satu ibadah yang tidak putus pahalanya hingga manusia dihisab diakhirat nanti. Dalam hadistirahat, “Siapa yang membangun masjid karena Allah Hanya memilih tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bisa mendapatkan kembali (rumah) seperti halnya pula di surga.” (HR. Ibnu Majah).

Artinya, janji Allah yang sangat besar bagi mereka yang mau melaksanakan  wakaf dan membuat hartanya menjadi berarti bagi Islam. Untuk orang-orang yang memiliki uang atau harta yang banyak dan hanya dapat dilakukan dengan memberikan aset atau properti tertentu. Padahal wakaf juga bisa dilakukan dalam bentuk uang yang disebut dengan istilah wakaf uang atau wakaf tunai.

Dengan uang sebesar Rp10.000 kita sudah bisa mulai berwakaf dan uang tersebut akan dikumpulkan bersama para wakif lainnya untuk membangun aset wakaf produktif. Misalnya saja, tanah untuk perkebunan, sekolah, bangunan untuk Dakwah, rumah sakit, dan lain sebagainya. Nilai pokoknya tidak bertambah tapi Manfaatnya selalu bertambah atau berkembang. Inilah yang menjadi keutamaan ibadah wakaf.


Leave a Reply

Zakat Calculator

error: Konten terlindungi !!